INDONESIA SEMANGAT !!!

Deklarasi Hari Motivasi Nasional (HARMONAS) pada Jumat, 12 Agustus 2016, memilih slogan “Indonesia Semangat”. Dan pilihan ini bisa dipertalikan dengan tiga kata yang pertama kali disatukan oleh Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia di awal masa kemerdekaan, Jenderal Dr. TB Simatupang, dalam judul salah satu bukunya di tahun 1980-an. Tiga kata itu adalah: harapan, keprihatinan, dan tekad. Jika Simatupang bicara dalam konteks peran Tentara Nasional Indonesia, kita sekarang bicara dalam konteks membangun etos kerja baru dan kepemimpinan model baru untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.

Jelas bahwa Indonesia adalah negeri penuh harapan. Harapan itu membuncah sejak pekik kemerdekaan dikumandangkan oleh para pejuang, dilegal-formalkan oleh proklamasi, ditumbuh-kembangkan lewat Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi. Sumberdaya alam Indonesia mengagumkan; ragam budaya dan etnisnya tak tertandingi; lautan yang tak ubahnya bagai kolam susu; suara merdu dan tarian indah menderu-deru dari pulau-pulau Sabang sampai Merauke. Segala potensi itu membuat bapak-bapak bangsa mengukir visi Indonesia: menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Itulah harapan.

Realitas yang kita saksikan sampai hari ini masih melahirkan keprihatinan. Seperti raksasa tidur saja negeri kita ini. Manusia Indonesia masih saja seperti yang digambarkan Mochtar Lubis tahun 1978, secara umum “memiliki watak yang lemah”. Nurcholish Madjid pernah mengatakan kita terjebak pada “mentalitas pedalaman”, feodalisme yang banyak dipengaruhi oleh kolonialisme. Birokrasi kita korup dan kolusi serta nepotisme kuat bercokol dalam hubungan konglomerat-birokrat-pejabat. Kita bangsa yang religius, tapi spiritualitas kita tak sampai menumbuhkan etos kerja yang mendorong untuk menjadi bangsa yang maju. Sikap intoleran dan radikalisme atas nama agama-suku-golongan diperparah oleh budaya menerabas untuk main hakim sendiri. Kita acap diguncang isu pribumi dan nonpribumi. Kita lupa pahlawan nasional Laksamana Muda John Lie (1911-1998) mendefinisikan, “Pribumi adalah orang-orang yang jelas-jelas membela kepentingan bangsa dan negara; sedangkan nonpribumi adalah mereka yang korupsi, melakukan pungli, memeras, dan melakukan subversi.” Jangan kan ditingkat global, di ASEAN pun kita belum punya prestasi yang sepadan dengan potensi negeri ini, baik dalam bidang olahraga, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan. Daftar hal yang memprihatinkan bisa kita perpanjang, namun harus selalu kita ingat juga bahwa kita prihatin karena punya harapan. Dengan begitu tidak pada tempatnya untuk mencaci maki atau saling menyalahkan pihak lain. Namun kita juga tak boleh berhenti untuk sekadar menjadi prihatin.

Kiranya menjadi jelas bahwa harapan tidak boleh sirna digerus keprihatinan, tetapi harus diolah menjadi tekad bulat untuk bekerja keras mengejar cita-cita. Kita ingat Sutan Takdir Alisyahbana pernah berkata, “Indonesia bukanlah kelanjutan dari kerajaan-kerajaan di masa lalu, melainkan sebuah bangsa baru.” Bangsa baru memerlukan mentalitas baru, “mentalitas pesisiran” kata Nurcholis Madjid, yang lebih obyektif dalam melihat dan merespon perkembangan bangsa dalam perspektif global. Cendikiawan Ignas Kleden menegaskan perlunya model “kepemimpinan maritim” atau yang oleh antropolog Prof. Mattulada disebut “kepemimpinan kapitan perahu”: tumbuh dari bawah, bukan didrop dari atas; kompetensinya diketahui publik secara transparan; tegas dalam keputusan dan pelaksanaannya; mendahulukan keselamatan publik dan bukan cari selamat sendiri. Kita harus maju dengan mentalitas etos kerja baru, dan mendorong terus kepemimpinan model kapitan perahu.

Harapan dan keprihatinan yang berujung pada tekad itulah yang membuat segenap jajaran AMA Indonesia, sebagai salah satu komponen bangsa, mendeklarasikan HARMONAS dengan slogan: Indonesia Semangat!

Visi Harmonas adalah menjadi gerakan nasional yang mengajak semua komponen bangsa untuk lebih semangat bekerja dan berkarya bagi terciptanya masyarakat yang lebih makmur menuju Indonesia Jaya.

Lewat HARMONAS, AMA Indonesia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menyemangati diri dengan pertama-tama berusaha membuat orang lain semangat lebih dulu; bukan menyemangati diri dengan melupakan, apalagi sampai menghina, orang lain. Dan upaya menyemangati orang lain itu terkait dengan membangun etos kerja baru yang lebih kompatibel dengan dunia global era digital, serta mendukung kepemimpinan baru model kapitan perahu.

Selamat Hari Motivasi Nasional: INDONESIA SEMANGAT!

Teletabik ?

 

Oleh: Andrias Harefa